Indonesia Negeri yang Indah, Tapi Miliki Keragaman Bencana Luar Biasa

Ilustrasi gempa bumi
Sumber :
  • Pixabay

BANDUNG – Kepala Disaster Risk Reduction Center (DRRC) Universitas Indonesia, Prof. Dra. Fatma Lestari, M.Si., Ph.D, mengungkapkan, Indonesia selain dikaruniai keindahan alam yang terbentang, juga dilengkapi dengan risiko bencana.

img_title Demiane Agustien Ungkap Keinginan Bela Timnas Indonesia: Akan Sangat Indah!

"Indonesia memiliki keragaman bencana luar biasa. Gempa bumi terbesar di dunia dan frekuensi terbanyak ke-3 di dunia yang memiliki likuifaksi," ujar Prof. Fatma saat Kick of Penyelenggaraan Garnas Buana 2022 di Hotel Borobudur Jakarta, belum lama ini.

"Tugas kita tidak mudah namun perlu kita berkolaborasi bersama. Perlu diingat juga bahwa jumlah penduduk Indonesia no. 4 terbesar di dunia, saat terjadi bencana memiliki tantangan lebih banyak," sambungnya.

img_title IPI Jabar Dorong Pesantren Jadi Pelopor Pelestarian Alam

Bahkan dia menyebut, dalam taraf internasional sekitar 80 persen gempa yang ada berasal dari Indonesia. Maka dari itu, untuk menghadapi kondisi tersebut Prof. Fatma mengingatkan kembali untuk bersama-sama berkolaborasi. 

Bentuk kolaborasi tersebut salah satunya diwujudkan dengan menyelenggarakan program Garda Nasional Bumi dan Bencana (Garda Buana) 2022. Program ini turut diinisiasi oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) melalui Direktorat Jenderal bina Administrasi Kewilayahan dengan support dari tim ahli Disaster Risk Reduction Center (DRRC) Universitas Indonesia. 

img_title Eksekusi Rumah di Garut Berujung Ricuh, Penghuni Melawan Petugas hingga Pengosongan Ditunda

"Indonesia negeri yang indah, kita juga menghadapi berbagai bencana di negeri ini. Garnas Bumi dan Bencana lahir hari ini untuk menghargai, memberikan penghargaan garda-garda terdepan yang selalu siap menjadi perintis, melindungi jiwa serta mengurangi dampak dampak dari bencana," tuturnya. 

Prof Fatma melanjutkan, Garnas Buana 2022 merupakan bentuk penghargaan kepada garda terdepan, sebab Indonesia memiliki begitu besar tantangan dalam menghadapi bencana.

Berada di tempat yang sama, Dirjen Bina Adwil, Drs. Safrizal menyampaikan, ke depannya mutu pelayanan kepada publik harus lebih baik. Salah satu cara yang ditempuh adalah melalui science, namun implementasinya dapat dilaksanakan oleh siapa saja dengan terarah dan lebih baik. 

"Maksud mengurus kegiatan ini lebih kuantitatif, lebih statistik dalam rangka ke depannya meningkatkan mutu pelayanan kepada publik. Kalau kita tidak mengerjakan ini secara sitifik, maka dianggap sebagai pekerjaan yang dapat dilakukan oleh siapa saja dan tidak terarah lebih baik," ungkap Drs. Safrizal.

Halaman Selanjutnya
img_title