12 Aplikasi Jahat di Android Bisa Intip WhatsApp! Cek Daftarnya Sekarang
- id.pinterest.com
VIVABandung – Di era digital seperti sekarang, aplikasi chatting menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.
WhatsApp, Signal, dan berbagai platform komunikasi lainnya memudahkan pengguna dalam berkomunikasi.
Namun, tahukah Anda bahwa ada aplikasi berbahaya yang bisa mengintip chat WhatsApp Anda?
Hacker
- id.pinterest.com
Jika tidak segera dihapus, data pribadi Anda bisa bocor ke tangan yang tidak bertanggung jawab.
Baru-baru ini, peneliti keamanan siber dari ESET menemukan belasan aplikasi berbahaya yang mengandung remote access trojan (RAT) bernama VajraSpy.
Trojan ini mampu mencuri berbagai informasi sensitif dari perangkat korban, termasuk percakapan di aplikasi chat populer.
Beberapa aplikasi ini sempat beredar di Google Play Store sebelum akhirnya dihapus, sementara lainnya masih dapat ditemukan di toko aplikasi pihak ketiga.
Meskipun sebagian aplikasi telah dihapus dari Play Store, bahaya tetap mengintai.
Jika Anda masih memiliki salah satu dari aplikasi berikut di ponsel, segera hapus untuk mencegah kebocoran data:
1. Quick Chat (messaging)
2. Rafaqat رفاقت (news)
3. Wave Chat
4. GlowChat
5. Chit Chat (messaging)
6. TikTalk
7. Hello Chat
8. MeetMe (messaging)
9. Nidus
10. Privee Talk (messaging)
11. Let's Chat (messaging)
12. YohooTalk
Aplikasi-aplikasi ini menyamar sebagai platform chatting atau portal berita, tetapi diam-diam bekerja sebagai spyware.
VajraSpy memiliki kemampuan untuk mengakses dan mencuri berbagai jenis informasi dari perangkat korban.
Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan trojan ini:
1. Mengumpulkan dan mengirimkan data pribadi dari perangkat, termasuk kontak, log panggilan, dan SMS.
2. Mencegat serta mengambil pesan dari aplikasi komunikasi populer seperti WhatsApp dan Signal.
3. Merekam panggilan telepon tanpa sepengetahuan pengguna.
4. Mengaktifkan kamera perangkat untuk mengambil gambar tanpa izin.
5. Mencegat notifikasi dari berbagai aplikasi secara real-time.
6. Mencari dan mengambil berbagai dokumen, termasuk foto, video, audio, serta file lainnya.
Para peneliti mencatat bahwa sebagian besar korban dari serangan ini berasal dari India dan Pakistan.
Modus yang digunakan cukup beragam, salah satunya dengan menipu korban melalui romance scam.
Di mana mereka diperdaya untuk menginstal aplikasi-aplikasi berbahaya tersebut.
Untuk menghindari risiko serangan siber seperti ini, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan: