Waspada! SMS OTP dari Nomor Resmi Bisa Palsu, Ini Ciri-Cirinya
- Roman Pohorecki / pexels.com
VIVABandung – Penipuan digital semakin canggih, termasuk modus pencurian data lewat SMS OTP palsu.
Para pelaku kini memanfaatkan teknologi fake BTS untuk mengelabui korban dengan pesan yang tampak dikirim dari nomor resmi.
Banyak orang yang tidak menyadari bahwa pesan OTP yang diterima sebenarnya telah dicegat sebelum sampai ke perangkat mereka.
Hacker
- id.pinterest.com
Dalam hitungan detik, informasi penting bisa jatuh ke tangan penipu.
Mereka menyisipkan tautan berbahaya yang mengarah ke situs phishing, tampak seperti halaman resmi bank atau layanan keuangan lainnya.
Begitu pengguna memasukkan data pribadinya, akses ke akun mereka bisa langsung berpindah tangan.
Oleh karena itu, kewaspadaan dalam mengenali perbedaan antara OTP asli dan palsu sangat penting.
Pengamat keamanan siber menyebutkan bahwa membedakan OTP asli dan palsu bukan hal mudah.
Modus ini bekerja dengan cara memanfaatkan fake BTS untuk mengirimkan pesan yang tampak berasal dari nomor resmi.
Teknologi ini memungkinkan pelaku memanipulasi sinyal dan mengarahkan ponsel korban agar tersambung ke jaringan palsu yang mereka buat.
Salah satu ciri khas OTP palsu adalah adanya tautan dalam pesan.
Jika menerima SMS OTP yang mencantumkan link, jangan pernah mengekliknya.
Bank dan layanan resmi tidak pernah menyertakan tautan dalam pesan OTP.
Jika ragu, lebih baik langsung menghubungi pihak terkait melalui aplikasi atau situs resmi yang telah dikonfirmasi keamanannya.
Para pelaku menggunakan perangkat bernama SMS Blaster yang berfungsi sebagai BTS portabel.
Alat ini bisa dibawa dalam tas atau dipasang di kendaraan, membuat semua ponsel di sekitarnya otomatis tersambung ke jaringan palsu tersebut.
Karena ponsel memang dirancang untuk terhubung ke sinyal terkuat, banyak korban yang tidak menyadari bahwa mereka sedang tersambung ke fake BTS.
Begitu tersambung, fake BTS akan mengirimkan SMS ke perangkat yang telah masuk dalam jangkauan.
Pesan yang diterima seolah berasal dari layanan resmi, namun sebenarnya dikendalikan oleh pelaku.
Inilah yang membuat banyak orang tertipu, terutama mereka yang tidak terbiasa mengecek ulang sumber pesan yang diterima.