Fenomena Quiet Quitting, Kerja Santai atau Diam-Diam Merusak Karier?
- canva
VIVABandung – Pernahkah kamu merasa bekerja begitu keras, tapi seakan tidak mendapat penghargaan yang setimpal?
Banyak pekerja, terutama generasi muda, mulai mempertanyakan apakah benar mereka harus terus mengorbankan keseimbangan hidup demi pekerjaan.
Dari pertanyaan inilah muncul fenomena yang disebut "quiet quitting," yaitu bekerja hanya sesuai tugas tanpa upaya ekstra.
Bukan berarti malas atau kurang bertanggung jawab, tapi lebih kepada menolak tekanan kerja yang berlebihan tanpa imbalan yang adil.
Orang sedang bekerja
- canva
Tren ini semakin populer di era digital, di mana batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan semakin kabur.
Banyak yang merasa lelah dengan ekspektasi tidak realistis di tempat kerja, seperti harus selalu terlihat sibuk atau siap bekerja di luar jam kantor tanpa kompensasi tambahan.
Quiet quitting menjadi bentuk perlawanan halus terhadap budaya kerja yang dianggap toxic.
Di mana seseorang memilih untuk menjaga keseimbangan hidup tanpa perlu keluar dari pekerjaannya.
Fenomena ini lahir dari meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental dan kesejahteraan pribadi.
Pekerja yang mengalami stres berkepanjangan sering kali merasa tidak dihargai, apalagi jika beban kerja terus bertambah tanpa adanya peningkatan gaji atau promosi.
Mereka yang memilih quiet quitting biasanya ingin tetap profesional, tetapi tanpa harus mengorbankan kebahagiaan mereka.
Ini bukan sekadar tren, melainkan refleksi dari pergeseran paradigma tentang bagaimana kita memandang pekerjaan.
Namun, quiet quitting bukan tanpa konsekuensi.
Bagi sebagian orang, membatasi keterlibatan dalam pekerjaan memang bisa memberikan ketenangan dan mengurangi stres.
Mereka lebih bisa menikmati waktu bersama keluarga, mengejar hobi, atau bahkan memulai usaha sampingan.
Namun, di sisi lain, perusahaan mungkin melihatnya sebagai kurangnya dedikasi, yang bisa berdampak pada jenjang karier.
Karyawan yang tidak aktif menunjukkan inisiatif lebih bisa jadi kehilangan peluang promosi atau proyek menarik yang bisa meningkatkan keterampilan mereka.
Sementara itu, banyak perusahaan mulai menyadari bahwa lingkungan kerja yang sehat lebih penting daripada sekadar produktivitas tinggi.
Beberapa organisasi telah beradaptasi dengan memberikan fleksibilitas lebih kepada karyawan, seperti kebijakan kerja hybrid, jam kerja yang lebih manusiawi, hingga penilaian berbasis hasil daripada sekadar kehadiran.