Waspada, Sering Hirup Polusi Udara Sebabkan Gangguan Kesuburan Pria

Ilustrasi pria
Sumber :
  • Pixabay

Bandung – Saat ini banyak negara di dunia tengah fokus berbenah agar terhindar dari polusi udara. Berbagai cara dilakukan untuk menghindari udara yang dipenuhi zat berbahaya itu, di antaranya beralih ke kendaraan listrik dan menanam pohon.

Polusi udara yang umumnya dihasilkan dari asap pabrik, asap kendaraan dan asap pembakaran sampah memiliki banyak pengaruh buruk bagi kesehatan. Jika selama ini kita mengetahui bahwa polusi udara hanya berdampak bagi kesehatan paru-paru, mata dan jantung, ternyata tak hanya itu. Polusi udara juga dapat mempengaruhi kualitas kesuburan pria.

Ketidaksuburan pria atau gangguan reproduksi seringkali menjadi pemicu hubungan yang tidak harmonis. Sebab, pasangan bakal kesulitan untuk memiliki buah hati. Selain itu, penurunan kadar testosteron akibat polusi udara juga dapat menyebabkan hilangnya hasrat seksual bagi seorang pria.

Seperti dilansir dari Times of India, pria yang tinggal di perkotaan memiliki masalah kesuburan 15 persen lebih banyak dibandingkan wanita. Masalah itu muncul karena kebiasaan orang-orang yang tinggal di kota menghirup udara terpapar polusi sehingga menyebabkan kualitas jumlah sperma menurun secara signifikan.

Dengan jumlah, motilitas dan konsentrasi yang rendah, sperma akan sulit mencapai bagian dalam tuba falopi yang menyebabkan kegagalan untuk mengandung. Menurunnya hasrat seksual pada pria merupakan salah satu gejala pertama yang menunjukkan munculnya infertilitas pria.

"Aktivitas yang mengganggu endokrin atau ketidakseimbangan hormon merupakan proses yang menyebabkan sel sperma berkurang dan bahkan mati. Udara yang kita hirup terdiri dari partikular seperti tembaga, seng, timbal dan sejenisnya yang memiliki sifat estrogen dan antiandrogen sehingga menghambat produksi testosterone dan sel sperma jika menghirup terlalu lama," ujar pakar kesuburan, Dokter Gunjan Gupta.

Dokter yang mendirikan Gunjan IVF World Group itu juga mengatakan bahwa sel sperma memiliki siklus hidup 72 hari dan efek buruk akibat terlalu sering menghirup polusi akan terlihat 90 hari.