Gen Z Sulit Bertahan di Kantor? Ini Alasan Mereka Sering Dipecat!
- canva
VIVABandung – Generasi Z (Gen Z) menghadapi tantangan besar di dunia kerja.
Sejumlah perusahaan dikabarkan memangkas banyak pegawai dari kalangan Gen Z sepanjang 2024.
Fenomena ini menimbulkan banyak perdebatan tentang penyebab utama pemecatan mereka.
Apakah karena sikap mereka yang sulit beradaptasi, ataukah karena perubahan tuntutan di dunia kerja yang semakin dinamis?
Gen Z (foto ilustrasi)
- canva
Menurut Radius Setiyawan, Dosen UM Surabaya sekaligus pengamat budaya pop, pemecatan Gen Z bukan hanya soal kinerja, tetapi juga perbedaan nilai antara mereka dan perusahaan.
"Gen Z memiliki ekspektasi tinggi terhadap keseimbangan hidup, fleksibilitas kerja, dan peran yang bermakna. Namun, perusahaan tetap memiliki standar dan budaya kerja yang harus diikuti," ungkap Radius.
Salah satu faktor utama yang membuat Gen Z sulit bertahan di perusahaan adalah gaya komunikasi mereka.
Banyak dari mereka terbiasa dengan bahasa kasual yang sering digunakan di media sosial.
Hal ini terkadang bertentangan dengan formalitas yang diterapkan di lingkungan kerja.
"Misalnya, banyak Gen Z lebih suka mengonsumsi berita dari TikTok daripada dari media tradisional, sehingga mereka lebih akrab dengan gaya bahasa informal," tambahnya.
Selain itu, ekspektasi tinggi terhadap pekerjaan juga menjadi persoalan.
Banyak Gen Z menginginkan gaji besar, lingkungan kerja nyaman, serta fleksibilitas tinggi. Namun, realitas dunia kerja tidak selalu sesuai dengan harapan tersebut.
"Ketika harapan tidak terpenuhi, mereka mudah merasa tidak puas dan akhirnya memilih keluar atau bahkan diberhentikan," jelas Radius.
Banyak pengusaha merasa bahwa sebagian besar Gen Z terlalu fokus pada self-love dan kebebasan individu, yang terkadang berbenturan dengan nilai kerja tim dan kedisiplinan.
Di sisi lain, Radius menilai bahwa perusahaan juga harus memahami bahwa gaya kerja dan kebutuhan karyawan terus berubah.
"Adaptasi bukan hanya tanggung jawab karyawan, tetapi juga perusahaan. Pemimpin senior perlu memahami bahwa cara komunikasi dan ekspektasi karyawan berbeda dengan generasi sebelumnya," katanya.
Isu lain yang sering luput dari pembahasan adalah faktor sosial dan ekonomi.
Masih banyak perempuan yang mengalami hambatan dalam dunia kerja karena stereotip gender.