Healing Mental Jelang Nikah Cegah Stress

ilustrasi hukum menikahi sepupu dalam islam
Sumber :
  • istimewa

BANDUNG - Pernikahan adalah peristiwa sakral saat dua orang yang mempunyai latar belakang berbeda bersatu dalam satu ikatan. Tentu saja hal ini harus didasari dengan cinta, komitmen, dan rasa saling menerima serta menghormati satu sama lain.

img_title 4 Rekomendasi Kafe Ikonik di Jl Braga Bandung, Wajib Dikunjungi

Selain mempersiapkan fisik dan materi menjelang pernikahan, hal penting lainnya adalah persiapan mental menghadapi pernikahan. Apa saja yang bisa dilakukan untuk mempersiapkan mental sebelum menikah?

 

img_title 4 Rekomendasi Spot Instagramable yang Bikin Feed Milenial Auto Kece

1. Kontrol emosi diri sendiri

Sangatlah wajar jika calon pasangan hidup Anda memiliki kebiasaan yang mungkin bertolak belakang dengan kebiasaan Anda. Pacaran dalam jangka waktu yang lama bukanlah jaminan untuk dapat memahami keinginan dan kebutuhan secara mendalam.

img_title Tanpa Klok! Persib Bandung Hadapi Ujian Berat Lawan Borneo FC, Sang Kapten Tetap Dampingi Tim Meski Absen

Oleh karena itu, salah satu persiapan mental pernikahan yang penting adalah mengenali tingkat emosi pasangan dan tingkat emosi diri Anda sendiri. Ini akan membantu Anda agar tidak terpancing untuk saling membalas jika terjadi suatu konflik.

 

2. Bangun komunikasi intens

Memiliki komunikasi yang baik dan saling terbuka merupakan persiapan mental pernikahan yang esensial. Komunikasi tidak harus dilakukan secara verbal, melainkan juga melalui sentuhan, senyuman, lelucon, komentar, atau keinginan saling mendengarkan dan mendukung satu sama lain.

Komunikasi yang lebih penting bukanlah sekadar menanyakan apa hobinya atau apa makanan kesukaannya, tetapi juga mengenali kebutuhan emosionalnya. Jadi, usahakan untuk selalu berkomunikasi sebaik-baiknya dengan menggunakan hati. Selain itu, Anda juga jangan terlalu banyak mengeluh pada calon pendamping hidup Anda.

 

3. Kembangkan kemampuan untuk mengatasi konflik

Setiap individu yang hidup pasti memiliki perbedaan satu dengan yang lainnya. Sering kali pasangan masih memiliki ego yang tinggi dan tidak mau mengalah karena menganggap bahwa cara dia mengatasi masalah adalah yang paling baik.

Persiapan mental sebelum pernikahan harus memperhatikan ada atau tidaknya kemampuan untuk mengatasi konflik yang mungkin terjadi. Ini diperlukan untuk menjaga keharmonisan rumah tangga. Semua hal awalnya diselesaikan dan dipikirkan sesuai dengan cara ‘Anda dan dia’. Namun, saat menikah semuanya harus berakhir dengan cara ‘kami’.

Artinya, jika semula keputusan didasarkan keinginan masing - masing individu, ketika sudah menikah keputusan harus dilakukan berdasarkan keinginan bersama.

Halaman Selanjutnya
img_title