Gen Z dan Flexing di Medsos, Target Empuk Penipuan Online!
- id.pinterest.com
VIVABandung – Di era digital yang terus berkembang, kejahatan siber makin merajalela.
Penipuan online menjadi ancaman nyata yang mengintai siapa saja, tanpa pandang usia atau latar belakang.
Dengan berbagai modus yang semakin canggih, korban bisa kehilangan data pribadi hingga uang dalam jumlah besar.
scam
- id.pinterest.com
Meski semua orang berisiko, ada beberapa kelompok yang lebih rentan terjebak dalam jeratan penipu digital.
Berbagai faktor, mulai dari kebiasaan daring hingga pola pikir yang kurang waspada.
Membuat mereka menjadi target empuk bagi pelaku kejahatan siber.
Dikutip dari Dana.id dan beberapa sumber, kelompok pertama yang kerap menjadi korban adalah Gen Z.
Generasi ini tumbuh dengan teknologi yang serba instan, membuat mereka lebih mudah percaya pada informasi yang beredar di internet.
Banyak dari mereka tidak melakukan verifikasi ulang sebelum mengklik tautan atau memberikan data pribadi.
Penipuan berkedok promo liburan, diskon besar, hingga lowongan kerja palsu sering kali menyasar mereka.
Selain Gen Z, individu yang gemar pamer atau flexing di media sosial juga berada dalam risiko tinggi.
Semakin sering seseorang memamerkan gaya hidup mewah, semakin besar kemungkinan mereka menjadi incaran penipu.
Pelaku bisa dengan mudah mengumpulkan informasi dari unggahan korban, melakukan profiling,
lalu melancarkan aksi dengan modus penipuan yang lebih personal dan meyakinkan.
Salah satu contoh penipuan yang sempat menghebohkan dunia digital adalah kasus kartu fisik DANA.
Beredar informasi palsu yang menyebutkan bahwa DANA mengeluarkan kartu fisik.
Padahal pihak resmi DANA tidak pernah menerbitkan produk tersebut.
Modus seperti ini sering kali mengandalkan kelalaian pengguna yang kurang teliti dalam memeriksa keaslian informasi.
Agar terhindar dari jebakan penipu, ada beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan.
Pertama, selalu waspada terhadap informasi mencurigakan yang mengatasnamakan layanan keuangan atau platform digital.
Jika menemukan tawaran yang terlalu menggiurkan, periksa keasliannya sebelum mengambil tindakan.
Kedua, lakukan konfirmasi melalui kanal resmi sebelum mempercayai informasi apa pun.
Banyak platform digital menyediakan fitur perlindungan pengguna yang bisa digunakan untuk mengecek keaslian pesan, nomor kontak, atau tautan yang mencurigakan.
Terakhir, segera laporkan jika menemukan indikasi penipuan.
Banyak kasus bisa dicegah jika korban atau saksi segera mengambil tindakan dengan menghubungi layanan pelanggan atau pihak berwenang.
Jangan pernah membagikan PIN, OTP, atau informasi sensitif lainnya kepada siapa pun, bahkan jika pihak yang menghubungi mengaku sebagai perwakilan resmi.
Kesadaran dan kehati-hatian adalah kunci utama dalam menghadapi kejahatan siber.
Pastikan hanya mengakses informasi melalui platform resmi dan selalu berpikir dua kali sebelum mengklik tautan atau membagikan data pribadi.
Dengan langkah pencegahan yang tepat, risiko menjadi korban penipuan online bisa diminimalkan.