Waspada! Stunting Bisa Ganggu Perkembangan Otak Anak, Ini Hal yang Harus Orang Tua Tau
VIVABandung – Stunting mengancam masa depan anak Indonesia. Kondisi ini bukan sekadar masalah tinggi badan, tetapi menyerang perkembangan otak dan kognitif anak secara permanen.
dr. Gammarida Magfirah menyampaikan fakta mengejutkan tentang dampak jangka panjang stunting yang sering diabaikan orangtua.
Stunting terjadi akibat kurangnya asupan gizi kronis pada dua tahun pertama kehidupan. Anak yang mengalami stunting memiliki tinggi badan lebih pendek dibandingkan anak seusianya.
"Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak yang terjadi karena kurangnya asupan gizi secara kronis pada masa-masa penting perkembangan anak, terutama pada 2 tahun pertama kehidupannya," jelas dr. Gammarida Magfirah dalam podcast Kata Dokter.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melaporkan angka stunting di Indonesia masih tinggi. Kemiskinan menjadi faktor utama penyebab kondisi ini. Banyak keluarga sulit memenuhi kebutuhan gizi anak secara optimal.
Pengetahuan orangtua tentang pemberian makanan bergizi seimbang masih minim. Pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama dan ASI lanjutan dengan MPASI sampai dua tahun belum dilakukan secara optimal.
ilustrasi Stunting pada anak
- alodokter.com
"Tidak hanya tinggi badan dan pertumbuhan secara umum, perkembangan secara kognitif juga akan terhambat. Kurangnya asupan nutrisi yang baik menyebabkan kecerdasan atau kognitif tidak bisa berkembang dengan baik," tegas dr. Gammarida.
Deteksi stunting dapat dilakukan dengan pemantauan rutin. Pemeriksaan berat dan tinggi badan anak harus dilakukan minimal sebulan sekali. Hasil pengukuran kemudian diplot pada kurva WHO dalam buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak).
Orangtua perlu waspada terhadap tanda-tanda stunting. Berat badan sulit bertambah, sistem kekebalan tubuh menurun, serta keterlambatan pencapaian kemampuan motorik dan bicara merupakan indikator penting.
"Pada kondisi stunting, biasanya berat badan anak sulit sekali untuk bertambah, kemudian sistem kekebalan tubuhnya pun menjadi turun, mudah terkena sakit," ungkap dr. Gammarida.
Faktor utama penyebab stunting adalah kekurangan gizi. Protein, kalori, serta mikronutrien seperti vitamin A, zat besi, yodium, dan zink sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan optimal anak.
Pemberian ASI tidak optimal dan MPASI yang tidak tepat juga berkontribusi pada risiko stunting. Kualitas dan kuantitas nutrisi yang diterima anak menjadi kunci pertumbuhan normal.